Oktober 29, 2008 pada 3:49 am (Islamic Studies)
Sayyidah Fatimah Ma’sumah

Rombongan yang dliputi rasa bahagia dan dan diringi bacaan sholawat telah tiba di kota Qom. Masyarakat setempat menyambutnya dengan menyembelih kambing . Hal itu dilakukan dengan tamu istimewa tersebut dilindungi dari segala bencana. Tamu istimewa itu adalah salah satu keluarga Rasulullah Saww. Ketika masyarakat setempat mendengar bahwa putri Imam Musa Al-Kadzim, Sayidah Fatimah Masumah akan berkunjung ke kota Qom, mereka sangat bergembira. Sayidah Fatimah Masumah disambut gembira oleh masyarakat setempat dengan rasa haru yang mendalam. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata. Mereka teringat dengan ayahnya Imam Musa Al-Kadzim dan saudaranya, Imam Ali Ar-Ridho as. Dengan tibanya Sayidah Fatimah Masumah, aroma keluarga Rasulullah Saaw semerbak di seluruh penjuru kota tersebut.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 18, 2008 pada 4:05 am (Islamic Studies)

Sunset in The Top of Gunung Gede Montain, Cianjur-Bogor.
Ketika masih SMA dulu, tahun 1982-83, hampir tiap tiap bulan aku naik Gunung Gede bersama teman-teman sekelas. Di sanalah aku mulai menemukan tanda-tanda kebesaran dan keagungan Tuhan Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pemelihara Alam Semesta. Tiada kata-kata yang sanggup melukiskan rasa bahagia yang kualami ketika berhasil mencapai puncak Gudung Gede saat itu. Di bibir jurang kawah Gunung gede itulah aku sering merenung: berfikir dan berzikir tentang keindahan alam semesta. Bertapa Indah Ciptaan, pastilah jauh lebih indah Sang Penciptanya. Allahu Akbar, Subhanallah.
-
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
-
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
003.190 Behold! in the creation of the heavens and the earth, and the alternation of night and day,- there are indeed Signs for men of understanding,-
003.191 Men who celebrate the praises of Allah, standing, sitting, and lying down on their sides, and contemplate the (wonders of) creation in the heavens and the earth, (With the thought): “Our Lord! not for naught Hast Thou created (all) this! Glory to Thee! Give us salvation from the penalty of the Fire.
Faedah selalu ingat kepada Allah dan merenungkan ciptaan-Nya
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Tinggalkan sebuah Komentar
April 15, 2008 pada 2:30 am (Islamic Studies)
Agama dan Pluralisme : Melawan sebuah distansi kultural
Oleh : Karel H Susetyo (ICAS MA Students)
“ Hakikat kebenaran telah mewahyukan dirinya dalam kebebasan”
( Martin Heidegger)
a. Prolog
Abad Modern menjadi abad terpenting dalam sejarah kehidupan manusia, ketika secara intens agama-agama saling bertemu dan menampakkan ekspresi serta konflik ketegangan dari pengikutnya antara satu sama lain. Pertemuan di mana agama-agama saling menampakkan keunikan dan universalitasnya yang semakin mengarah kepada eksklusivisme dan sektarianisme, sehingga timbul asumsi-asumsi teologis-politis bahwa telah terjadi perbenturan di antara mereka. Sebagaimana sangat diyakini oleh Huntington, dengan adanya sebuah benturan peradaban antara Barat (sebagai representasi Kristen dan Yahudi) dengan Timur (sebagai representasi Islam) melalui sebuah perebutan kekuasaan dan pengaruh politik-ekonomi dunia, dan akan berujung pada sebuah perang salib baru. Perebutan dan perjuangan atas klaim otoritas tunggal akan kebenaran dan jalan penyelamatan terakhir bagi manusia-lah yang mewujud sebagai titik pecah agama-agama di dunia. Keadaan inilah yang mendorong semakin gencarnya tuntutan atas kesadaran pluralisme agama yang mengatasi perbedaaan konseptual atas sumber-sumber teologis yang dimiliki oleh agama–agama ke dalam sebuah relasi ideal dengan kontekstualisasinya ketika saling berhadapan. Dan adalah sebuah reinterpretasi dinamis teks- konteks atas sumber-sumber teologis-lah yang memecahkan kebuntuan jalan panjang perbenturan tersebut, melalui aktivitas pengungkapan misteri yang terdapat dalam simbol dan teks agama guna memperoleh kebenaran akan maksud dan tujuan Tuhan di dalamnya.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar